Jumat, 05 Juni 2009
Mengubah suara
Kita juga bisa mengubah suara seperti yang dilakukan karakter komik Conan Edogawa. Bahkan konsepnya sederhana saja. Bagaimana itu?
Jika Anda seorang penggemar serial komik Detektif Conan, pasti Anda mengetahui tentang alat pengubah suara berbentuk dasi kupu-kupu yang biasa digunakan Conan dengan memakai suara Detektif Kogoro Mouri (yang ditidurkan dengan obat bius) untuk melakukan pemecahan kasus misteri kejahatan.
Sepintas, hal itu seakan ada di dalam cerita komik saja. Namun sebenarnya tidak. Hal tersebut memang benar-benar dapat dilakukan jika kita mengetahui konsep yang sebetulnya sederhana tentang bunyi/suara. Bunyi/suara, merupakan salah satu jenis gelombang yang dirambatkan pada medium udara akibat vibrasi yang ditimbulkan dari materi sumber bunyi/suara tersebut. Getaran ini akan menyebabkan merambatnya gelombang dalam medium udara berupa perubahan tekanan (pressure) secara merapat dan merenggang (longitudinal) yang bentuknya juga khas. Setiap benda memiliki karakteristik material yang berbeda, sehingga jika sebuah benda digetarkan dapat menyebabkan bunyi yang terdengar akan terasa berbeda pula jika dibandingkan dengan benda yang lainnya. Ambillah contoh pensil dan gong. Pensil jika dijatuhkan ke lantai akan berbunyi suara “trek-tuk-tuk” sedangkan sebuah gong jika dipukul akan berbunyi..”goong..” tentunya. Begitupun dengan suara manusia. Contoh sederhananya, suara laki-laki tentu berbeda dengan suara wanita, dan suara anak-anak akan berbeda dengan suara orang dewasa. Lalu apa yang menyebabkan setiap benda atau manusia memiliki karakter bunyi/suara yang berbeda-beda?
Pitch dan Timbre
Secara umum, ada dua faktor penting yang berpengaruh dalam perbedaan tersebut:
Faktor yang pertama yaitu pitch. Pitch adalah frekuensi dasar (fundamental frequency) yang dimiliki oleh setiap benda yang bergetar dan mengeluarkan bunyi, termasuk pita suara manusia. Frekuensi adalah banyaknya getaran benda per detik (misal: dari rapatan gelombang ke rapatan berikutnya) yang biasa dinyatakan dalam satuan Hertz (Hz). Manusia secara rata-rata bisa mendengar bunyi/suara dalam rentang 20-20.000 Hz.
Setiap benda yang bergetar, akan memiliki kekhasan dalam bentuk getaran/frekuensinya. Gelombang bunyi/suara ini dapat berbentuk sinyal periodik yang sederhana (frekuensi tunggal) maupun yang kompleks (kombinasi banyak frekuensi). Lalu, bagaimana mendapatkan informasi pitch ini, terlebih jika sinyal yang ada begitu kompleks termasuk untuk suara manusia? Sinyal dalam bentuk apapun asalkan ia periodik sebenarnya bisa kita nyatakan dalam kombinasi fungsi sinus dan cosinus.
Itulah ide dasar dari sebuah fungsi transformasi yang dapat “menerjemahkan” sebuah sinyal dari domain waktu ke domain frekuensi yang biasa dikenal dengan transformasi Fourier (nama transformasi tersebut diambil dari nama sorang matematikawan Perancis pada abad 19 yakni Joseph Fourier). Dengan menggunakan fungsi transformasi ini, kita akan dapat mengetahui di titik-titik frekuensi mana sajakah sinyal periodik ini dominan, Sehingga, kita yang awalnya hanya memiliki informasi seberapa cepat getaran berubah dan merambat terhadap waktu akan dapat “mengintip” besaran frekuensi-frekuensi yang “tersembunyi” dalam sinyal tersebut.
Faktor yang kedua yakni timbre, istilah dalam bahasa Perancis yang berarti “warna nada” bunyi/suara. Timbre dapat disebut sebagai kunci inti dari karakter suara kita. Timbre merupakan kualitas dari bunyi/suara yang membuat kita bisa membedakan antara bunyi/suara yang satu dengan yang lainnya, walaupun pitch dan level kekerasan bunyi/suaranya sama. Getaran gelombang bunyi/suara cukup kompleks, dan biasanya bergetar dalam beberapa frekuensi secara simultan. Inilah sebenarnya yang menyebabkan bunyi/suara masing-masing benda berbeda dikarenakan “muatan harmonik” timbrenya berbeda pula.
Mengubah Suara Kita
Lalu bagaimana hubungan penjelasan di atas dengan alat pengubah suara dalam komik Detektif Conan tadi? Dengan mengetahui bahwa suara manusia bisa kita analisis melalui pitch dan timbrenya, maka kita pun sebenarnya bisa mendapatkan karakteristik khas suara masing-masing orang. Artinya, jika kita memiliki data karakteristik tersebut, akan sangat mudah bagi kita untuk mengubah suara kita sendiri agar mirip dengan orang yang ingin kita tiru suaranya. Sebagai contoh, kita bisa mengubah baik dari suara perempuan menjadi suara laki-laki atau sebaliknya, dan bahkan meniru persis suara orang lain. Caranya adalah dengan merekayasa karakter pitch dan timbre suara kita agar sesuai dengan karakter suara orang yang kita inginkan. Sederhana namun menarik bukan?
Sebagai informasi tambahan, perangkat-perangkat lunak pengubah suara yang gratis dan komersial sebetulnya sudah banyak beredar, salah satu yang populer adalah MorphVOX. Tapi tentu saja, alat ini dibuat dan digunakan untuk sebuah tujuan yang baik, menghibur, dan kalau bisa digunakan untuk memecahkan/mencegah kasus kejahatan seperti yang dilakukan oleh Conan. Tentunya bukan malah digunakan untuk menghasilkan sebuah kejahatan baru. Sepakat kan?
Kredit foto: xyz21bj.tripod.com
(http://netsains.com/2008/01/semua-bisa-mengubah-suara-ala-detektif-conan/)
Kamis, 04 Juni 2009
Band Detektif conan???
» DETEKTIF CONAN; Ambisi Besar Band Ciamis
SEBENARNYA akan sangat menyenangkan, bila daerah-daerah kecil yang jarang "dilirik" produser musik, bis amenyeruak dan memunculkan musisi ke pentas nasional. Menyenangkan, karena mungkin kita akan mendengar karakter musikal yang berbeda, dibanding band-band dari kota besar misalnya.
Dan inilah yang "menggugah" spirit band bernama unik DETEKTIF CONAN dari Ciamis, Jawa Barat, untuk "nekat" bermusik. Padahal, siapa sih yang tahu musisi dari Ciamis? Untung saja stigma "pelecehan" itu tak menyurutkan band yang personilnya bertetangga dengan Noey, pentolan Java Jive ini.
Buktinya, band yang beranggotakan Feonk [vokal], Koteph [bas], Mae [gitar] dan Bobby [drum], berani merilis album perdana yang diberi titel "NIKMATI SAJALAH". Tidak gegabah memang, karena band yang punya jam terbang tinggi di Ciamis dan Parahyangan Timur ini memilih jalur indie untuk awal karir mereka ini. "Bukan tidak mungkin kami merilis album nasional nantinya," terang FeonK kepada TEMBANG.com.
Soal pilihan nama, band yang mengaku terinpirasi dengan brit-rock ini, tak asal comot. Meski terkesan unik, dalam kancah dongeng, Detektif Conan adalah kartun Jepang yang bercerita tentang bocah cilik yang punya keingintahuan sangat besar tentang kejadian di sekitarnya. "Yah, kami juga ingin tahu banyak hal soal musik yang membuat kami berkembang," terang Koteph yang ikut nimbrung.
Band yang berdiri 26 Desember 2004 ini memang tak bermimpi aneh-aneh. Diterima dan mau didengar saja, mereka sudah bahagia. Tapi ambisi untuk berkiprah ke level yang lebih tinggi dari Ciamis, tentu saja tak bisa didiamkan begitu saja. Siapa tahu, ada band ngetop dari kota kecil ini.
(http://www.acehforum.or.id/detektif-conan-ambisi-t1379.html?s=aef1bb5c8c32e0937d77786b67061e14&)
Kisah Shinichi Kudo
Shinichi adalah seorang detektif terkenal yang masih bersekolah di SMU Teitan kelas 2, dan telah memecahkan kasus-kasus sulit berkali-kali, sehingga dijuluki Penyelamat Kepolisian Jepang. Ayah Shinichi, Yusaku Kudo, bekerja sebagai penulis novel ternama. Salah satu novelnya adalah cerita mengenai kisah penjahat bertopeng dan berjubah hitam yang bernama Night Baron. Ibu Shinichi, Yukiko Kudo, adalah seorang artis terkenal! Namun ia meninggalkan dunia artis setelah menikah dengan Yusaku. Kini, kedua orang tuanya sedang berada di Amerika. Shinichi sangat menyukai novel detektif, salah satunya adalah Sherlock Holmes. Shinichi juga adalah pemain sepak bola yang sangat handal!!
Suatu hari, setelah Shinichi pulang dari Tropical Land bersama teman masa kecilnya, Ran, dia menyaksikan transaksi gelap yang dilakukan oleh pria berjubah hitam. Kemudian pelaku transaksi tersebut mendapati Shinichi dan membuatnya pingsan serta memberi racun yang masih dalam tahap percobaan, yaitu APTX 4869 agar Shinichi tutp mulut dan mati. Namun tanpa mereka ketahui, Shinichi tidak mati, melainkan tubuhnya yang mengecil.
Shinichi pun kebingungan dan meminta Professor Agasa untuk membantunya, namun disaat yang bersamaan, Ran yang mencemaskan Shinichi karena tiba-tiba menghilang datang dan menemukan Shinichi kecil. Ketika ditanya namanya, Shinichi sangat merasa kebingungan dan melihat buku-buku dibelakangnya, dengan penulis Sir Arthur Conan Doyle dan Edogawa Ranpo. Dengan cepat dia membuat nama untuk tubuh kecilnya yang baru, yaitu Conan Edogawa. (Nama yang aneh untuk orang Jepang, karena terdengar seperti orang asing).
Untuk menyembunyikan identitasnya, dia menumpang tinggal di kantor detektif Kogoro Mouri, ayah Ran. Dalam wujud Conan, selain membantu Kogoro, dia mencari informasi tentang kawanan komplotan laki-laki berjubah hitam yang telah mengubahnya menjadi kecil. Shinichi pun akhirnya harus masuk SD Teitan, bekas SDnya untuk mengelabui masyarakat setempat. Dengan bantuan alat canggih dari Profesor Agasa, Shinichi diam-diam membantu Kogoro Mouri yang terlalu BODOH untuk memecahkan kasus yang sulit.
Di SDnya, Conan bergabung dengan kelompok detektif cilik.


